Friday 24 June 2016

Mars

Most of the time, silence is the greatest reward of all.

Some people like me find happiness in loneliness, but happiness is only real when it's shared.   Every time I read a book, or a Tweet, or a quote, or a post and I somehow felt connected to it, or it triggered something within me, I felt a spark on the inside, somehow I felt like I'm not alone. 

I really wonder why people suddenly change after they get what they wanted. One day they're sweet, the next day they're not. One day they're here, the next day they're not. One day you're important to them, the next day you're worthless. One day they love you, the next day they don't care about you.

We are all looking for answers, then.

I wonder what today is going to be like. . . oh, nothing again. Okay. For the past 6 hours, I've been knocking things over with a song. 
So, what's the point? Does it matter? 

Sometime, just sometime. . .

However, I could no longer rely on genuine emotion to generate facial expressions, and when you have to spend every social interaction consciously manipulating your face into shapes that are only approximately the right ones, alienating people is inevitable. 

So I've been talking a lot with some songs. Me and her, the song.

If you and I were sitting in Starbucks and you had your fave drink and I had my Caramel Frappucino I’d look at you, and I’d tell you the truth – you’re not failing.

I know. I’m guessing, you’d wipe away the tears, and look up, and try to nod your head, but inside, inside well, you’d think that those are nice words but seriously she has no idea. You know why I know? Because I’ve sat in a coffee shop, across from a friend, a friend who looked me smack in the face and told me that I wasn’t failing and that I was doing a great job.

You are not failing. You are not.  
 

Friday 10 October 2014

Scenes

Despite your best efforts, people are going to be hurt when it's time for them to be hurt. 

Again and again she would ask herself: 'Am I in love with him?'

I’m the one who ruined me: I did it myself.
There are times when the understanding doesn't come until later, when it no longer matters.
I wanted to say something. But I didn't. I decided to wait for a time when the words would mean more. 
But if you knew you might not be able to see it again tomorrow, everything would suddenly become special and precious, wouldn’t it? 

Only you can fill in what's missing. It's not something another person can do for you. 
People’s memories are maybe the fuel they burn to stay alive. 

But you... Numbers aren’t the important thing. The countdown has no meaning. I want to grow old with you. 

It's not about the destination, but it's about the journey. I tried to tell him how I felt, but somehow the feelings and the right words couldn’t connect.

Just... Stay with me. 


Tuesday 22 April 2014

Bahagia

2 minggu lebih, saya mondar mandir di kedua posko ini.

Rawat jalan dan rawat inap RS PKU Muhammadiyah yang letaknya di daerah kauman. Lelah, letih, penuh peluh. Mengapa banyak sekali orang sakit disini. Dalam 1 lembar resep bisa berisi 6-12 macam obat. Bagaimana caranya pasien ini menghabiskan obatnya?

Itu yang saya pikirkan. Sulitnya saja. Namun, beberapa hari belakangan saya melewati salah satu ruangan, yang letaknya berhadapan dengan pos apotek rawat inap. Setiap siang jika saya akan mengambil obat di rawat inap, ruangan tersebut selalu tertutup. 

Suatu ketika, hitungannya saya masuk lembur karena akan mengambil data yang masih kurang. Ruangan tersebut terbuka gordennya, ketika jalan saya merengut terus karena kelelahan. Saya masuk dari jam 7-17:30 dan belum pulang. Kenapa gordennya dibuka? Saya berhenti, kemudian menoleh. 

Bayi kecil, warna tubuhnya kemerahan. Mulutnya tersambung dengan alat bantu minum (selang bening) berisi air. Ia bergerak. Matanya terbuka sedikit demi sedikit. Saya yang tadinya merengut kelelahan, terhenti dan entah apa namanya. Degup jantung kian cepat. 
Ya, nurani berbicara...
Kecil sekali, bentuknya. Helaian rambutnya masih terlihat jarang, lipatan antara dagu dan pipinya begitu terlihat. Subhanallah, ciptaan Tuhan. 

Ia menggeliat, dari dalam selimutnya. Matanya hitam bening berair. 
Bagaimana bisa, jiwa yang hidup lama di dalam kandungan, sebegini indahnya, akan disia-siakan? Wajah saya pun berubah. Ada senyum. Inikah bukti bahwa Tuhan adil? Tidak selamanya lelah yang dirasa. Tapi ada hikmah dari semuanya. Berjalanlah pelan, lihatlah proses yang terjadi di kanan dan kirimu. Lelah, tidak selelah itu. 

Akan lebih lelah, mengeluarkan tubuh mungil dari dalam rahimmu. Bagaimana memperjuangkannya dan membesarkannya kelak.

Stase selanjutnya, seminggu ini saya di pos apotek rawat inap. Saya baru membaca tulisan di ruangan sebelah. "R. Prematur". Ternyata, ruangan tersebut adalah ruang dimana bayi yang lahirnya prematur akan di kondisikan di dalam ruangan tersebut. Saat pagi, gordennya dibuka, menjelang siang akan ditutup, dan akan dibuka lagi menjelang sore. 

Di tengah kesibukan, saya melihat sepasang pria-wanita, melihat bayi dari luar ruangan tersebut. mereka tersenyum. Apakah itu orang tuanya? atau hanya sekedar pengunjung yang lewat? Cinta yang menggebu-gebu, akan manis jika kau menikmati setiap detiknya dengan bersyukur. Meskipun prematur, pasti kedua orang tuanya berharap bayinya akan tumbuh sehat. Ya, hiburan saya adalah bayi-bayi mungil itu selama di rumah sakit. 

Warna kulitnya kemerahan. Dengan mata yang murni tanpa dosa melihat sesuatu. Hatinya? Jangan diragukan ketulusannya. 

Tidak semua lelah adalah lelah. Tidak semua sakit adalah sakit. Karena ada satu yang pasti ingin dilihat. kebahagiaan.