Most of the time, silence is the greatest reward of all.
Some people like me find happiness in loneliness, but happiness is only real when it's shared. Every time I read a book, or a Tweet, or a quote, or a post and I
somehow felt connected to it, or it triggered something within me, I
felt a spark on the inside, somehow I felt like I'm not alone.
I really wonder why people
suddenly change after they get what they wanted. One day they're sweet,
the next day they're not. One day they're here, the next day they're
not. One day you're important to them, the next day you're worthless.
One day they love you, the next day they don't care about you.
We are all looking for answers, then.
I wonder what today is going to be like. . . oh, nothing again. Okay. For the past 6 hours, I've been knocking things over with a song. So, what's the point? Does it matter?
Sometime, just sometime. . .
However, I could no longer rely on genuine emotion to generate facial
expressions, and when you have to spend every social interaction
consciously manipulating your face into shapes that are only
approximately the right ones, alienating people is inevitable.
So I've been talking a lot with some songs. Me and her, the song.
If you and I were sitting in Starbucks and you had your fave drink and I
had my Caramel Frappucino I’d look at you, and I’d tell you the truth –
you’re not failing.
I know. I’m guessing, you’d wipe away the tears, and look up, and try to
nod your head, but inside, inside well, you’d think that those are nice
words but seriously she has no idea. You know why I know? Because I’ve
sat in a coffee shop, across from a friend, a friend who looked me smack
in the face and told me that I wasn’t failing and that I was doing a
great job.
Despite your best efforts, people are going to be hurt when it's time for them to be hurt. Again and again she would ask herself: 'Am I in love with him?' I’m the one who ruined me: I did it myself. There are times when the understanding doesn't come until later, when it no longer matters. I wanted to say something. But I didn't. I decided to wait for a time when the words would mean more. But if you knew you might not be able to see it again tomorrow, everything would suddenly become special and precious, wouldn’t it? Only you can fill in what's missing. It's not something another person can do for you. People’s memories are maybe the fuel they burn to stay alive. But you... Numbers aren’t the important thing. The countdown has no meaning. I want to grow old with you. It's not about the destination, but it's about the journey. I tried to tell him how I felt, but somehow the feelings and the right words couldn’t connect. Just... Stay with me.
2 minggu lebih, saya mondar mandir di kedua posko ini.
Rawat jalan dan rawat inap RS PKU Muhammadiyah yang letaknya di daerah kauman. Lelah, letih, penuh peluh. Mengapa banyak sekali orang sakit disini. Dalam 1 lembar resep bisa berisi 6-12 macam obat. Bagaimana caranya pasien ini menghabiskan obatnya?
Itu yang saya pikirkan. Sulitnya saja. Namun, beberapa hari belakangan saya melewati salah satu ruangan, yang letaknya berhadapan dengan pos apotek rawat inap. Setiap siang jika saya akan mengambil obat di rawat inap, ruangan tersebut selalu tertutup.
Suatu ketika, hitungannya saya masuk lembur karena akan mengambil data yang masih kurang. Ruangan tersebut terbuka gordennya, ketika jalan saya merengut terus karena kelelahan. Saya masuk dari jam 7-17:30 dan belum pulang. Kenapa gordennya dibuka? Saya berhenti, kemudian menoleh.
Bayi kecil, warna tubuhnya kemerahan. Mulutnya tersambung dengan alat bantu minum (selang bening) berisi air. Ia bergerak. Matanya terbuka sedikit demi sedikit. Saya yang tadinya merengut kelelahan, terhenti dan entah apa namanya. Degup jantung kian cepat.
Ya, nurani berbicara...
Kecil sekali, bentuknya. Helaian rambutnya masih terlihat jarang, lipatan antara dagu dan pipinya begitu terlihat. Subhanallah, ciptaan Tuhan.
Ia menggeliat, dari dalam selimutnya. Matanya hitam bening berair.
Bagaimana bisa, jiwa yang hidup lama di dalam kandungan, sebegini indahnya, akan disia-siakan? Wajah saya pun berubah. Ada senyum. Inikah bukti bahwa Tuhan adil? Tidak selamanya lelah yang dirasa. Tapi ada hikmah dari semuanya. Berjalanlah pelan, lihatlah proses yang terjadi di kanan dan kirimu. Lelah, tidak selelah itu.
Akan lebih lelah, mengeluarkan tubuh mungil dari dalam rahimmu. Bagaimana memperjuangkannya dan membesarkannya kelak.
Stase selanjutnya, seminggu ini saya di pos apotek rawat inap. Saya baru membaca tulisan di ruangan sebelah. "R. Prematur". Ternyata, ruangan tersebut adalah ruang dimana bayi yang lahirnya prematur akan di kondisikan di dalam ruangan tersebut. Saat pagi, gordennya dibuka, menjelang siang akan ditutup, dan akan dibuka lagi menjelang sore.
Di tengah kesibukan, saya melihat sepasang pria-wanita, melihat bayi dari luar ruangan tersebut. mereka tersenyum. Apakah itu orang tuanya? atau hanya sekedar pengunjung yang lewat? Cinta yang menggebu-gebu, akan manis jika kau menikmati setiap detiknya dengan bersyukur. Meskipun prematur, pasti kedua orang tuanya berharap bayinya akan tumbuh sehat. Ya, hiburan saya adalah bayi-bayi mungil itu selama di rumah sakit.
Warna kulitnya kemerahan. Dengan mata yang murni tanpa dosa melihat sesuatu. Hatinya? Jangan diragukan ketulusannya.
Tidak semua lelah adalah lelah. Tidak semua sakit adalah sakit. Karena ada satu yang pasti ingin dilihat. kebahagiaan.
Berpikir hari ini, siapa yang akan aku temui nanti.
17 tahun tanpa tahu
mana yang harus di pilih. Dia meyakinkanku bahwa semua akan baik baik
saja. Mengingatkan aku untuk tetap tenang. Dan tahu bahwa aku sedang
tidak baik baik saja. Kadang ia lupa, pergi sendiri, meninggalkan aku.
Tapi ia tahu arah pulang, yang memang itu adalah alasannya untuk
pulang. Jikalau di masa nanti yang akan aku temui adalah dia, tetap
berikan tanda bahwa itu senyumnya. Karena mimpiku, mimpinya, yang aku
sendiri tidak tahu cara mewujudkannya, akan nyata jika bersama. Doaku,
semoga pribadimu semakin bijaksana, usiamu adalah perjalanan hidupmu,
dan di masa depan semoga aku masih mengenal sosok yang sama dengan
pribadi itu. Selamat ulang tahun, 23.
Ada beberapa senja yang aku pikirkan tentang kita, tentang bagaimana aku akan menemukanmu kelak
Entah berapa banyak waktu yang aku habiskan untuk mencari sosokmu, yang nantinya akan mencintai Tuhan kita
Yang akan membantuku menemukan jalan dalam acara Tuhan, mencintai keluargaku dan keluargamu.
Adapun cerita, ketika nanti aku menemukanmu, kau cukup melihat kedua bola mataku. Ia akan bercerita bebas, dengan binar dan bulatnya. Kau akan tau bagaimana aku mencarimu. Yang akan aku temukan sekarang atau di masa depan.
A question that starts with the word how. How despite all the
sufferings, pains, agonies one has endured or witnessed, perhaps even at
a daily continuum, how can one remain sane?
Banyak pertanyaan yang dimulai dari sebuah kata. Bagaimana kita merasa menyakiti, tersakiti.
Mungkin aku akan merasa bahagia namun di kala lain akan merasa sedih. Tapi, jika kau baca ini kelak, dalam perjalananku mencarimu, aku mungkin akan bertemu orang yang
kuyakini adalah dirimu, kemudian menyadari kalau aku salah. Dan jika yang aku temukan sekarang adalah dirimu di masa depan, semoga rasa ini tetap sama, yang mana aku akan menikahi pria yang mengerti akan mimpi-mimpinya dan mengerti bagaimana mewujudkannya dengan asa di genggaman bersama. Mungkin aku
akan terluka, dan bisa jadi kamu ada disekitarku saat ini, saling tidak
menyadari keadaan masa depan. Ia misterius. Apakah kamu juga menyadari? Kalau ia
begitu misterius?
There are other parts that go along with this journey and this part is called 'Progress'.
First of all, it feels kind of awkward to be writing all over again in
this blog though it has been one of my favorite places to go to get a
peace of mind. Well, I guess there are times when you’ll feel awkward,
even in your own home, after being away for some specific amount of
time, right?
This is a story about Conny (the rabbit) and Brown (the bear)...
Almost 2yearsago, theywere lovers whofoughttogetherinthecity. Love, hope, dreams, hard work, entertainment,sad, and happy, allpassed along. Butin the end, appears the word of "thrive /grow". Theyfinda newstoryline, whichin turnappearsmisunderstandingsanddisputes.
Everyday, they fought, arguments, ego, everything becomes one. All over, Brown isa manwhodoes notromantic, but due tolackhis un-romantical things, itmakeshimlook perfect and romantic. While, Connyis a womanwho's geekyandnotjaunty, butit ispossiblethatmakesherlook attractive. Thus, there were a problem blew up one by one. Metthe newenvironment, new friends, newlifestyles, new stories. Which in turnmakesthemrarelycommunicatedandmet. BrownbecameveryindifferenttowardsConny and ConnybecamefrequentandangrytowardsBrown. Sotheyoftenquarreledandfinallyparted...
Some things are incommensurable with each other in the sense of not being translatable one into another. Surprisingly, even to herself (Conny), She is enjoying the experience of being a
headhunter, so far. She find it exciting as it gives her new things to
explore, new people to meet, new lessons to learn. And maybe Brown too. Feel the same way like Conny. Conny has get to learn a lot about so many things from each of them, such as
business, management, selling skills, fashion, relationships, family,
basically about life in general.
Admittedly, She (Conny) find it very hard to accept the fact that She cannot jump
right away into the field that She had been learning for the past these
years. She is alone, and... Brown too.
It is about moving on, falling in love again, drifting apart and falling all over again. Somehow, 9 months later, theymet inaccidentalconditions.
Does the cupidhadarcheryintotheirhearts, whichismutuallymissed to each other? ormaybe thatisthe way of god to make them falling in love again? I don't know.
Browntriedagainto refinethe things that is previouslybroken, andfinallytheydecidedto be togetheragainby acceptingeach other's shortcomings.
Conny's tryingtorepair herself. And she wants Brown to know... "Let me be the girl you fall for a little bit more every single day. Let
me be the girl you can show your true colors to. Let me be the girl you
can tell your dreams and deepest secrets. I wanna be the girl you never
thought could ever existed. Let me be the girl you think about even when
other girls are around. Let me be the girl that makes you feel like the
luckiest man alive. The one girl that makes you a true man"
No matter how hard it is, she (Conny) promised herself, she will survive....
10.26 (13/6) "No needto being a romanticone, everyday. Ifeverydayshould beromantic, it will beexhausted. And if it runs out, I've gotwhat? What should I give you then?" 11.52 (14/6) It isJune, now. Wherefor the first timewemetagainafter9monthsapart. Don't you remember?Whether, does it need to be romantic to remember those things?Ijustwant you to rememberhowwemet. or...whetherit isjusta trivialthingto you? Like seasons or clothes. When things are so different that you can actually feel, see, touch, taste, and hear it. I need to apologizing to my self, you, and another person who are close to us. We worked really hard, so hard. You
know what is the only one thing that could measure true love? Time. That even though everything changes, how the person is, what the person
does, that they kept fighting for you; that they never doubt their first
choice of making you their only one. Ingat? Saat secara tidak sengaja kita bertemu di hall kampus ekonomi? Bahkan aku sedang berbicara dengan salah satu teman kampusmu, membahas apa? kita. dan kamu datang dari sudut pintu, aku ternyesum. Amarah menghilang seketika, karena apa? ya, that's love. And suddenly, I have my hand in yours. Fingers caressed by yours, fingers lightly kissed. Will you ever leave me again? Will I ever have to leave you? Yang jika sungguh cinta, kita akan membiarkannya, seperti apa adanya, melanjutkannya hingga nanti kembali ke Pemiliknya.
Aku meminjam motor teman se-kost untuk mampir ke
toko buku.
Jalanan
tidak terlalu ramai dan tidak terlalu sepi.
Lama, cukup lama tidak mengendarai
motor ber-persneling ini, agak susah awalnya. Motor kulaju dengan kecepatan 30
km/jam, karena sulit bagiku yang hampir 4 tahun mengendarai scooter.
Sampai
di toko buku, social agency namanya. Awal datang mataku tertuju pada dinding
parkiran motor, “parkir gratis” yang artinya aku tidak perlu menyiapkan Rp 1000
untuk motor atau Rp 2000 untuk konsumen yang datang memakai mobil. Entah apa
namanya, perasaanku arif seketika melihat tulisan itu.
Lantai
2 langsung ku jejal, toko buku ini jarang aku kunjungi. Terakhir adalah setahun
yang lalu. Saat berstatus baru patah hati. Tak kenal hati, rasa mati. Langkah pertama
masuk ke dalam toko buku itu mengingatkan kejadian setahun yang lalu. Siklus hidup
yang berubah, dari yang ketergantungan mulai belajar untuk hdiup sendiri dan
mandiri. Anak tangga pertama aku naiki dan tersenyum kecil mengingat setahun lalu.
Rak
“FARMASI” berderet disamping rak “KEDOKTERAN” dan “MESIN”. Aku meneliti satu
persatu buku, yang herannya diisi dengan buku “Kebidanan”. Aku mencari buku
yang nantinya akan aku sumbangkan ke Perpustakaan.Setelah 40 menit, aku mendapatkan judul yang
dicari. Buku yang ditulis oleh salah satu dosen kelas farmakologiku Dr. Agung.
Sembari
melihat-lihat novel, mataku tertuju pada novel dengan cover berwarna biru muda.
Ya, sebenarnya bukan karena tahu penulisnya siapa, tapi ada kata “Ayah” pada
cover tersebut.
Judul novel itu “Ayahku (bukan) pembohong”.
Tertarik, aku
mengambilnya, membaca tulisan dibelakangnya.
“…kapan
terakhir kali kita memeluk ayah kita? Menatap wajahnya, lantas bilang kita
sungguh sayang padanya?”
Sarafku
terpacu, kemudian yang muncul dipikiranku adalah ayahku. Terakhir aku melihat
beliau adalah di dalam peti, yang baru sampai di bawa ke Yogyarta denga
pesawat. Bahkan aku tidak sempat melihat wajahnya. Bahakn memeluknya saja aku
tidak sempat, aku hanya menyentuh ujung petinya, dan menatapnya sebentar karena
akan segera dikuburkan.
November
2012, bulan dimana aku dipaksa dewasa. Menjadikan otakku bekerja lebih banyak
dari sebelumnya. Di hari ulang tahunku, aku berbicara empat mata dengan ayahku.
Dia tidak menanyakan kenapa, dia juga tidak ingin mencari tahu apa sebab aku
patah hati. Dia tidak menyalahkan pria yang membuatku patah hati. Ayahku hanya
mengatakan…
“kamu hanya perlu lebih banyak belajar dan
melihat dunia, bahagia itu datang dari diri sendiri. Bukan orang lain. Bukan orang
lain yang bertanggung jawab atas kebahagiaanmu, tapi dirimu sendiri”
Dari
matanya aku melihat betapa dia menyukai pria yang membuatku patah hati, pria
yang pertama kali aku kenalkan pada ayahku sebagai teman priaku.
Tapi akhirnya sekaligus
mengecewakannya. Dan saat terakhir dia pergi, hanya itu yang membekas….
Ya,
ayahku juga diakhir percakapan mengatakan ....
“sesuatu yang memang untukmu, pada akhirnya
akan ada untukmu, tidak akan tertukar”
Awalnya
aku tidak memikirkannya. Aku pikir itu hanya kata-kata ayahku untuk menenangkan
saja. Aku juga berpikir, kegagalanku ya karena aku yang salah. Maka memperbaiki
diri adalah cara utama yang harus aku lakukan.
Sampai
tiba saat aku membaca novel “Ayahku
(bukan) pembohong” ini.
“itulah hakikat
sejati kebahagiaan hidup, Dam. Hakikat itu berasa dari diri kau sendiri. Bagaimana
kau membersihkan dan melapangkan hati, bertahun-tahun berlatih, bertahun-tahun
belajar membuat hati kita menjadi lapang. Kita tidak akan pernah merasakan
kebahagiaan sejati dari kebahagiaan yang datang dari luar hati kita. Hadiah mendadak,
kabar baik, keberuntungan, harta benda yang datang, pangkat, jabatan, semua itu
tidak hakiki. Itu datang dari luar. Saat semua hilang, dengan cepat hilang pula
kebahagiaan.” –
Tere-liye
Kemudian
aku mengingat, seseorang mengatakan bahwa aku
tidak bisa membuatnya bahagia, dia tidak bahagia ketika bersama denganku.
Ya,
kalimat itu sempat membuatku tidak memiliki hati satu setengah tahun yang lalu.
Ya, senjatanya adalah kata-kata ayahku tadi.
Ya,
aku bangga memiliki ayah seperti beliau.
Hanya
saja terakhir kali aku bertemu dengannya, aku tidak bisa memeluk dan melihat
wajahnya.
Aku
hanya bisa menyentuh ujung pinggir petinya dan melihat kain kafannya.
Siang, 11.48 am. Terik, motorku berhenti disamping mushola desa tempat dimana Ia tertidur.
Ya, ayahku disana. Adzan duhur berkumandang. Standar motor aku turunkan, Assalamualaykum aku ucapkan.
Polanharjo, saksi dimana ayahku terlahir menjadi seorang anak petani. Oh, bukan hanya itu. Dia belajar bagaimana mencari kehidupan, sekolah ke kota dengan mengandeng truk yang bersiap mencari rejeki. Menggandeng? Ya, Ia menaiki sepeda ontelnya, berjaga didepan rumah dan menunggu truk pengangkut alang-alang kering atau kerbau yang bersiap lewat.
Bukan main jaraknya, dari rumah ke SMA-nya lebih kurang 40 menit dengan sepeda. Polanharjo-jebres. Mungkin yang tinggal disekitaran klaten atau solo mengenal tempat tersebut. Anak seorang petani yang bekerja sambilan sebagai tukang jahit, tukang obras. Dan akhir hayatnya menjadi seorang pelaut.
Seorang pria dengan cita-cita biasa, menyekolahkan anak-anaknya setinggi mungkin. Bila perlu belajar hingga ke negeri china. Ia tidak peduli dirinya yang bukan seorang sarjana, ia pun tak peduli pendamping hidupnya hanya seorang lulusan SLA. Ada yang tau SLA jika disamakan akan seperti apa tingkat pendidikannya dengan jaman sekarang?
Dua tahun terakhir sebelum Ia tertidur lama, "ndhuk, mau lulus kapan?" itu adalah pertanyaan yang pertama dan terakhir kali pernah beliau lontarkan. Dalam hati ... "baru juga semester 4, udah nanya aja nih ".
"cepat lulus ya, ibumu sudah mau pensiun". Ia mengatakan hal tersebut dengan berlalu membawa motor supra X nya. Oh ya, aku bahkan tidak jauh berpikir kemana yang dimaksud, toh kalau ibu pensiun, bapak juga sudah pensiun, aku yang akan mencari kerja. Kenapa harus sekarang diingatkan. Itu yang 2 tahun lalu aku pikirkan.
22 januari 2012. 6:30 pm, Ia menghubungiku untuk terakhir kalinya.
"ndhuk, sudah pulang? jangan lupa maghribnya"
Aku pikir itu hal yang sama, yang selalu beliau lakukan. Beliau selalu menghubungiku di saat-saat jam shalat. Malu, ya, 20 tahun, dan masih diingatkan untuk shalat.
Aku dengan malas-malasan menjawab "ya, udah pah".
23 Januari 2013. 4:20 am. Aku dihubungi salah satu keluargaku. Oh, bukan bapak atau ibuku. Bahkan bukan masku. Tapi... Bulekku.
"Nok ayu..."
"ya om... ada apa?" -Aku yang masih setengah ngantuk dan mendengar adzan subuh berbunyi.
"Yang tabah ya..."
*Tiba-tiba jantungky berdetak kencang, sangat kencang. Yang ada dipikiranku langsung wajah bapak*
17 Mei 2013. 2:40 pm. Seragam putih hitam aku pakai. Jantung berdegup kencang. Sampai rasa-rasanya jantungku akan melompat keluar dari rongga dada. Merobek perikardiumnya dengan kontraksi yang sangat kencang. Oh, di pojok kiri, Ia melihatku. Bismillah, 1,5 jam berlalu.
21 Mei 2013. Masih 38 menit lagi. Karena wifi kosan yan kurang bagus, jadi ya begini...
Selamat ulang tahun bapak. Ini bukan kado, tapi cita-citamu. Semoga pribadi yang masih terus belajar seperti benih padi yang akan bertumbuh, bisa menjadi padi yang isinya lebat dan semakin merunduk ke bawah.
Dua tahun lalu, sekarang terjawab. Selamat ulang tahun. Suatu saat, kita, bisa berkumpul bersama, yang entah kapan. Besok, lusa, minggu depan, bulan depan, 2 tahun lagi, atau entah sesuka Yang Punya alam semesta ini.
I was going to apologize for crying.
Why am I crying?
How to stop crying?
Some people don't notice everything we do until we stop doing it. Less expectations, less disappointment. And I push my self to that thing "expectations". Is it good to cry? Crying? it didn't make it better.